
Jakarta(Pinmas)--Menteri Agama Suryadharma Ali menilai penyelenggaran Ujian Nasional (UN) tidak bisa dihapus dari kalender pendidikan, hanya karena alasan siswa menjadi stres. Pasalnya, belum ada alat ukur kualitas pendidikan di tanah air selain dari UN sebagai penentu kelulusan peserta didik.
"Kalau tidak ada UN mengukurnya dengan apa," kata Menag kepada wartawan usai mengunjungi pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di MTs Negeri 3 Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Senin, (29/3). Kehadiran Menag SDA didampingi Dirjen Pendidikan Islam Mohammad Ali, Irjen Kementerian Agama M. Suparta, Direktur Pendidikan Madrasah Firdaus dan Kakanwil Kemenag DKI Jakarta Sutami.
Menag mengatakan, sekarang ini terdengar suara `nyaring` yang menginginkan UN ditiadakan, sementara ada pula keinginan agar kualitas pendidikan di tanah air semakin meningkat.
"Kalau tak ada UN, siswa tidak masuk (sekolah) tidak apa-apa yang penting telah tiga tahun terdaftar lalu lulus," ujar SDA yang pernah menjadi guru. Menurutnya, anak yang pintar tidak belajar pasti mengalami kesulitan.
Menjawab tentang kebocoran soal di madrasah, Menag menyatakan, selama pelaksanaan UN tingkat Madrasah Aliyah (setara SMA) 22-26 tidak ditemukan kasus kebocoran soal.
Kepada peserta UN tingkat Madrasah Tsanawiyah (setara SMP), diingatkan agar tidak melakukan penyimpangan seperti melalui SMS (pesan singkat) jawaban atau melalui joki-joki.
Menag juga mengatakan, bahwa selama ini banyak yang menilai madrasah sebagai lembaga pendidikan kelas dua. "Saya punya keyakinan (madrasah) tidak kalah dengan lembaga pendidikan lain," ujarnya. Hanya saja jumlahnya tidak sebanding antara yang negeri 8,5 dengan madrasah swasta 91,5 , imbuhnya. (ks)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar